[Jakarta] Rumah Sakit (RS) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Cikini telah memulaii pembangunan gedung baru untuk menunjang pelayanan profesionalisme rumah sakit itu. RS swasta ternama ini terus meningkatkane ksistensinya sebagai rujukan bagi pasien gangguan ginjal dan hipertensi.
Untuk itu, RS PGI Cikini terus memutakhirkan alat mediknya, diantaranya Laser Revolix untuk instalasi bedah, Digital Dental Panoramic Rontgen, MSCT Scanner 64 Slice dan X-Ray mobile Unit di instalasi Radiologi serta alat Hematology Analyser Sysmex HT-2001 dan Coagulation Analyser Sysmex di laboratorium. RS ini juga memiliki alat pemecah batu ginjal dengan gelombang Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy ESWL yang dirsmikan oleh Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyanigsih 2011 lalu.

Direktur Ketua RS PGI Cikini dr Jongguk Naiborhu di Jakarta, Kamis (26/1) mengatakan, dalam pepmbangunan gedung baru tersebut, RS PGI Cikini pun tetap mempertahankan rumah Raden Saleh yang menjadi bagian tengah halaman RS ini sebagai cagar budaya bangsa yang dilindungi Undang-undang. Pembangunan gedung baru ini sama sekali tidak menyentuh rumah Raden Saleh.

Bahkan, agar tidak tertutup dari pandangan mata publik, gedung baru berlantai 8 yang akan dibangun persisi di depan rumah Raden Saleh terdiri dari kaca, sehingga dari luar gedung lama bisa terlihat. Rencananya juga rumah in akan dijadikan museum karea barang Raden Saleh seperti kursi, lemari dan meja yang ia gunakan sehari-hari masih ada dan terawat dengan baik.

”Selain juga lebih banyak digunakan untuk pertemuan atau acara yang berhubungan dengan beliau,” ucapnya seusai acara pencanangan tiang pertama pembangunan gedung master plan fisik yang dilakukan oleh Ketua Pengurus Yayasan Kesehatan PGI Cikini, Soetikno Soedarjo, didampingi Ketua Umum Pengurus Yayasan Kesehatan PGI Cikini Prof. Karmel Tambunan dan direksi lainnya di Jakarta, Kamis.

Janji Gubernur Fauzi

Jongguk Naiborhu mengatakan, untuk melestarikan rumah peninggalan Raden Saleh dilakukan dengan pemugaran. Sejak lima tahun lalu pemerintah daerah DKI Jakarta telah memberikan daa sekitar Rp 200 juta untuk pemugaran di bagian belakang rumah ini. Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, ketika berkunjung tahun lalu ke rumah Raden Saleh berjanji akan membantu pelestarian peninggalan sejarah tersebut.

Jongguk menambahkan, di usianya yang ke-114 kini, RS PGI Cikini ingin berbenah diri memberikan pelayanan yang ebih baik siring dengan perkembangan pelayanan di sektor kesehatan yang semakin maju. Gedung yang lama udah tidak lagi memadai melayani kunjungan pasien yang terus meningkat, mengoperasionalkan alat penunjang medik dan jumlah dokter yang terus bertambah.

Dengan konsep garden hospital, taman luas yang berada di halaman ruang rawat inap pasien tetap dipertahankan dengan pertimbangan memberikan suasana alam dan kesegaran udara bagi pasien dan keluarga. Beberapa komponen yang akan ditambahkan dengan adanya gedung baru ini, antara lain tempat tidur di ruang ICU dari 8 sekarang menjadi 33.

Tempat tidur pasien hemodialisis atau cuci darah yang sekarang hanya 26 ditamahkan menjadi sekitar 35-40 tempat tidur. ”Karena permintaan banyak di bagian hemodialisis maupun ICU, tetapi selalu kami rujuk ke RSCM karena kekurangan tempat tidur,” katanya.

Diopearsikan 2013

Gedung baru yang pembangunannya diperkirakan selesai dan dioperasionalkan sekitar awal 2013 nanti dierkirakan menghabiskan anggaran mencapai lebih dari Rp 100 miliar yang berasal dari anggaran yayasan serta sumbangan individu. Diharapkan dengan dengan gedung baru ini bisa memacu semangat baru kepada semua komponen rumah sakit, mulai dari pimpinan, karyawan, dokter dan tenaga perawat untuk lebih profesional dalam bekerja.

”Selain semangat baru yang penting juga kita ingin mengubah atitute atau cara kerja yang tadinya lebih cenderung sistem kekeluargaan harus menjadi lebih profesional lagi. Untuk mencapai ini kita tekankan pada customer oriented, menempatkan kepentingan passien nomor satu,” katanya. [D-13]

Sumber: Suara Pembaruan

No Comment

Comments are closed.